Thursday, 17 December 2009
Investasi 101
1) Investing 101: Introduction
2) Investing 101: What Is Investing?
3) Investing 101: The Concept Of Compounding
4) Investing 101: Knowing Yourself
5) Investing 101: Preparing For Contradictions
6) Investing 101: Types Of Investments
7) Investing 101: Portfolios And Diversification
8) Investing 101: Conclusion
Introduction
Have you ever wondered how the rich got their wealth and then kept it growing? Do you dream of retiring early (or of being able to retire at all)? Do you know that you should invest, but don't know where to start?
If you answered "yes" to any of the above questions, you've come to the right place. In this tutorial we will cover the practice of investing from the ground up. The world of finance can be extremely intimidating, but we firmly believe that the stock market and greater financial world won't seem so complicated once you learn some of the lingo and major concepts.
We should emphasize, however, that investing isn't a get-rich-quick scheme. Taking control of your personal finances will take work, and, yes, there will be a learning curve. But the rewards will far outweigh the required effort. Contrary to popular belief, you don't have to allow banks, bosses or investment professionals to push your money in directions that you don't understand. After all, no one is in a better position than you are to know what is best for you and your money.
Regardless of your personality type, lifestyle or interests, this tutorial will help you to understand what investing is, what it means and how time earns money…
---------------------------------------
Daftar Isi
1) Pengantar
2) Apakah investasi itu?
3) Konsep pertumbuhan / bunga
4) Memahami diri sendiri
5) Mempersiapkan diri terhadap pertentangan
6) Jenis-jenis investasi
7) Portofolio dan diversifikasi
8) Kesimpulan
Pengantar
Pernahkan anda berpikir tentang bagaimana orang kaya memperoleh kekayaan mereka dan membuatnya tetap bertumbuh? Apakah anda memimpikan tentang pensiun lebih cepat (atau paling tidak bermimpi tentang pensiun)? Apakah anda memahami bahwa anda harus berinvestasi, tapi tidak tahu harus memulai dari mana?
Jika anda menjawab “ya” terhadap pertanyaan manapun di atas, anda sudah berada di tempat yang tepat. Dalam tutorial ini kita akan membahas praktek-praktek investasi dari yang paling mendasar. Dunia keuangan dapat benar-benar menakutkan, namun kami sangat yakin bahwa pasar saham dan dunia keuangan yang lebih luas tidak akan nampak terlalu rumit setelah anda memahami beberapa istilah khas dan konsep-konsep umumnya.
Bagaimanapun kami perlu menekankan bahwa berinvestasi bukanlah skema untuk menjadi kaya secara instan. Proses mengendalikan keuangan pribadi anda akan membutuhkan usaha dan -tentu saja- akan ada dinamika proses belajar. Tetapi, manfaat yang anda peroleh akan jauh melampaui usaha yang anda perlukan. Berbeda dengan keyakinan umum, anda tidak perlu membiarkan bank, para bos atau investment professional untuk menggerakkan uang anda ke arah yang anda tidak paham. Malahan, tidak ada orang lain yang berada pada posisi yang lebih baik dari anda untuk mengetahui apa yang terbaik bagi anda dan uang anda.
Terlepas dari gaya hidup, minat ataupun tipe kepribadian anda, tutorial ini akan membantu anda memahami apakah investasi itu, apa artinya dan bagaimana waktu dapat menghasilkan uang…
============================
… through compounding. But it doesn't stop there. This tutorial will also teach you about the building blocks of the investing world and the markets, give you some insight into techniques and strategies and help you think about which investing strategies suit you best. So do yourself a lifelong favor and keep reading. One last thing: remember: there are no "stupid" questions. If after reading this tutorial you still have unanswered questions, we'd love to hear from you.
--------------------------------------------
…melalui pertumbuhan bunga. Namun tidak hanya sampai disitu. Tutorial ini akan juga mengajarkan anda tentang bagian-bagian penting yang membentuk dunia investasi dan pasar, memberi anda wawasan terhadap tehnik-tehnik dan strategi-strategi dan membantu anda berpikir tentang strategi investasi mana yang paling sesuai dengan anda. Jadi jalanilah proses belajar anda dengan cara yang paling nyaman bagi anda dan teruslah membaca. Satu lagi: ingatlah, tidak ada pertanyaan “bodoh”. Jika setelah membaca tutorial ini anda masih memiliki pertanyaan yang tidak terjawab, kami dengan senang hati mendengarnya dari anda.
Friday, 28 August 2009
Mengembangkan Tes Baku (Developing Standardized Tests)
Thomas Oakland
Test development has had a long and illustrious history. Test development activities occurred in China about 3000 years ago (Wang, 1993). One goal of these early efforts was to assist in selecting persons with suitable qualities to hold high ranking government officers. The next evidence of test development activities occurred during late 1800s when pioneers in psychology established laboratories for the study of human behavior. They developed tests to collect data from children, youth, and adults in order to describe important psychological qualities as well as to formulate and test theories (Oakland, 1995).
--------------------------------------------------
Pengembangan alat tes memiliki sejarah yang sangat panjang. Aktivitas pengembangan tes mulai muncul di Cina sudah sejak 3000 tahun yang lalu (Wang, 1993). Pada saat itu, salah satu tujuannya adalah untuk menyeleksi orang-orang untuk menduduki jabatan tinggi di pemerintahan. Fakta sejarah berikutnya tentang aktivitas pengembangan tes muncul sekitar akhir 1800-an, ketika pionir di bidang ilmu Psikologi mendirikan laboratorium untuk mempelajari perilaku manusia. Pada waktu itu, mereka mengembangkan tes untuk mengumpulkan data dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk memperoleh gambaran tentang kualitas-kualitas psikologis yang penting serta untuk memformulasikan dan menguji teori-teori (Oakland, 1995).
============================================
Test use has become a daily occurrence for many people. Test use in schools is common. Students often take one or more teacher made tests each day. In addition, in some countries, students are given standardized tests measuring such qualities as academic aptitude, achievement, vocational interests, and learning styles.
-----------------------------------------------------------
Penggunaan tes kini telah menjadi bagian dari keseharian kehidupan individu. Tes sudah banyak digunakan di sekolah-sekolah. Pelajar-pelajar kini kerap menjalani satu atau lebih tes yang dibuat oleh guru di sekolah sehari-harinya. Di beberapa negara, pelajar-pelajar menjalani tes yang sudah dibakukan (tes baku) yang mengukur kualitas-kualitas seperti bakat akademis, dorongan berprestasi, minat pekerjaan, serta gaya belajar.
============================================
However, test use is not confined to school settings or to children and youth. For example, tests are used in medical and legal settings, when applying for jobs or driver's license, and when qualifying for professions. Persons of all ages can be expected to take tests.
-----------------------------------------------------------
Bagaimanapun, penggunaan tes juga tidak terbatas hanya pada lingkungan sekolah atau hanya ditujukan pada anak-anak dan remaja. Tes juga diterapkan pada berbagai lingkungan seperti di bidang hukum dan medis, ketika melamar pekerjaan atau hendak memperoleh SIM, dan ketika ingin memperoleh ijazah pada profesi-profesi tertentu. Orang-orang dari berbagai usia sama-sama berpeluang untuk menjalani tes.
============================================
Various reasons exist for using tests. The principle reason is to accurately describe behaviors or other important qualities. Accurate description is prerequisite to other reasons for test use. Other reasons may include the following: to assess and evaluate prior levels of attainment, to compare one individual with others of similar age, to diagnose, to estimate future behaviors, to assist in counseling (e.g., overcoming problems and planning for one's future), and to assist in student and employee selection as well as program planning and evaluation.
-----------------------------------------------------------
Ada berbagai tujuan untuk penggunaan alat tes. Tujuan utamanya adalah untuk menggambarkan perilaku atau kualitas lain secara akurat. Penggambaran akurat adalah prasyarat bagi tujuan lainnya. Tujuan lainnya antaralain termasuk: untuk mengases dan mengevaluasi kondisi pencapaian awal, untuk membandingkan individu yang satu dengan yang lainnya pada usia yang sama, untuk melakukan diagnosa, untuk mengestimasi perilaku di masa depan, sebagai alat bantu dalam konseling (contohnya; untuk mengatasi masalah dan merencanakan masa depan seseorang), dan sebagai alat bantu baik dalam proses seleksi karyawan dan pelajar maupun dalam perencanaan dan evaluasi program.
============================================
Test use may be characterized in terms of the importance of test use. Information from some tests (e.g., teacher made tests used routinely in classrooms) generally is less important than many other tests (e.g., those used in student and employee selection). Care is needed in constructing all tests. However, greater care is needed in the construction of those that are used for more important decisions that may significantly influence life outcomes. Given their importance, tests used for these purposes often are standardized and more carefully developed.
-----------------------------------------------------------
Kegunaan tes dapat digolongkan dalam kaitannya dengan pentingnya penggunaan tes. Informasi dari beberapa tes (contohnya: tes buatan guru yang rutin digunakan di kelas) secara umum dianggap tidak lebih penting dari banyak tes lain (contohnya: tes-tes yang digunakan untuk seleksi pelajar dan karyawan). Semua alat tes membutuhkan ketelitian dalam proses pembuatannya. Namun demikian, ketelitian yang lebih besar dibutuhkan dalam proses pembuatan tes yang akan digunakan untuk keputusan-keputusan yang lebih penting yang dapat secara signifikan mempengaruhi kehidupan. Berdasarkan hal ini, penggunaan tes untuk tujuan-tujuan tersebut seringkali dibakukan dan dikembangkan dengan lebih hati-hati.
============================================
Psychologists, educators, and other professionals have acquired considerable experience and expertise in developing standardized tests during the last 100 years. Thousands of standardized tests have been developed. Their use can be found in every country.
-----------------------------------------------------------
Psikolog, guru, dan profesional-profesional di bidang lainnya telah memperoleh cukup pengalaman dan keahlian dalam pengembangan tes-tes baku selama 100 tahun terakhir. Ribuan tes baku telah dikembangkan. Tes-tes tersebut dapat ditemukan di setiap negara.
============================================
The primary purpose of this chapter is to outline and describe the steps used to develop standardized tests. A secondary purpose is to encourage those interested in test development activities to become engaged in this process.
-----------------------------------------------------------
Tujuan utama dari bab ini adalah untuk menguraikan dan menggambarkan langkah-langkah untuk mengembangkan tes baku. Tujuan lainnya adalah untuk mendorong dan mengajak siapapun yang tertarik dengan pengembangan tes untuk terlibat dalam proses ini.
*Artikel sumber diambil dari:
http://www.intestcom.org/publications/orta/good%20practices%20for%20test%20developers.php
Thursday, 5 March 2009
Asal Usul Uang
Bayangkan jika A dan B melakukan pertukaran sejumlah barang komoditas m dan n. A mendapatkan komoditas n karena nilai kegunaan yang dimiliki komoditas tersebut baginya. Dia bermaksud untuk mengkonsumsinya. Hal sama juga terjadi pada B, yang mendapatkan komoditas m untuk segera digunakan. Ini adalah contoh pertukaran langsung.
Jika ada lebih dari dua orang dan lebih dari dua macam komoditas di pasar, pertukaran tidak langsung juga dapat dimungkinkan. Si A mungkin akan memperoleh komoditas p, bukan karena dia ingin mengkonsumsinya, tetapi karena ia ingin menukarnya dengan komoditas kedua q yang dia ingin konsumsi. Mari kita bayangkan si A membawa dua unit komoditas m ke pasar, si B membawa 2 unit komoditas n, dan si C dua unit komoditas o. A menginginkan satu unit untuk masing-masing komoditas n dan o, sementara B menginginkan satu unit untuk masing-masing komoditas o dan m, dan si C menginginkan satu unit untuk masing-masing komoditas m dan n. Bahkan dalam kasus ini pertukaran langsung dimungkinkan jika penilaian subyektif atas ketiga komoditas membolehkan pertukaran dari masing-masing unit m, n, dan o antara satu dengan yang lain. Namun jika hal ini atau hipotesa yang serupa dengannya partisipannya tidak memegang barang yang dibutuhkan, dan lebih jauh lagi pada jumlah pertukaran yang lebih besar di mana masing-masing partisipan tidak memegang barang yang dibutuhkan, maka pertukaran tidak langsung menjadi penting, dan permintaan atas barang-barang yang sebenarnya diinginkan ditambahi oleh permintaan akan barang-barang yang bisa ditukarkan dengan barang lain.
Mari kita ambil contoh kasus sederhana di mana komoditas p diinginkan hanya oleh para pemegang komoditas q, sementara komoditas q tidak dinginkan oleh para pemegang komoditas p, melainkan oleh pemegang komoditas ketiga yaitu r, yang mana komoditas r ini diinginkan oleh para pemilik komoditas p. Tidak ada pertukaran langsung antara orang-orang ini yang mungkin terjadi. Jika pertukaran ini kenyataannya tetap terjadi, yang terjadi adalah pertukaran tidak langsug. Contoh, anggap saja jika para pemilik komoditas p menukar p dengan komoditas q dan kemudian menukar lagi q dengan komoditas r yang sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Kasus ini secara hakekat tidak berbeda dengan kondisi di mana pemasokan dan permintaan tidak cocok secara kuantitas. Contoh, jika satu barang yang tidak dapat dibagi-bagi perlu ditukar dengan beberapa barang yang tersebar dan dimiliki oleh beberapa orang.
Pertukaran tidak langsung menjadi lebih diperlukan seiring peningkatan pembagian kerja dan keinginan-keinginan yang menjadi lebih beradab. Dalam kondisi perkembangan ekonomi saat ini, peristiwa di mana pertukaran langsung mungkin terjadi dan juga benar-benar berpengaruh telah menjadi sangat langka. Namun, bahkan saat-saat ini, hal tersebut kadang terjadi. Contohnya, pembayaran gaji dalam jenis, yang mana merupakan kasus pertukaran langsung sejauh pada satu sisi majikannya menggunakan pekerjaan untuk pemenuhan kebutuhan langsung dan tidak menukarnya, dan pada sisi yang lain karyawan mengkonsumsi barang yang diterima dan tidak menjualnya. Pembayaran gaji dengan jenis macam ini masih umum dijumpai di bidang pertanian, meskipun bahkan dalam lingkup ini kepentingannya mulai secara berkesinambungan dikurangi oleh penyebaran cara-cara kapitalistik manajemen dan pengembangan dari pembagian kerja.
Kemudian, sejalan dengan permintaan akan barang-barang di dalam pasar untuk konsumsi langsung, ada juga permintaan akan barang-barang yang mana para pembelinya tidak ingin mengkonsumsinya, melainkan ingin menggantinya dalam pertukaran yang lebih lanjut. Jelas bahwa tidak semua barang dibutuhkan bagi permintaan macam ini. Seseorang jelas tidak memiliki motif untuk melakukan pertukaran tidak langsung jika dia tidak berharap hal ini akan membawanya lebih dekat dengan tujuan terakhirnya, yaitu kepemilikan barang-barang untuk dia gunakan sendiri. Hanya dengan fakta bahwa tidak akan ada pertukaran kecuali dalam bentuk tidak langsung tidak dapat menyebabkan orang-orang melibatkan diri dalam pertukaran tidak langsung jika mereka tidak memiliki keuntungan personal mendesak dari situ. Pertukaran langsung menjadi tidak memungkinkan, dan pertukaran tidak langsung menjadi tidak berarti dari sudut pandang individu, tidak ada pertukaran sama sekali. Seseorang bersandar pada pertukaran tidak langsung hanya jika mereka memperoleh keuntungan darinya. Dengan kata lain, hanya jika barang-barang yang mereka peroleh lebih bisa dijual daripada barang-barang yang ingin mereka lepaskan sekarang.
Semua barang tidak memiliki potensi pasar (tukar) yang sama. Sementara hanya ada permintaan yang terbatas dan musiman terhadap barang-barang tertentu, permintaan terhadap barang-barang lain lebih umum dan tetap. Akibatnya, mereka yang membawa barang-barang jenis pertama ke pasar untuk ditukarkan dengan barang-barang yang mereka butuhkan akan memiliki prospek yang lebih kecil untuk sukses daripada mereka yang menawarkan barang-barang jenis kedua. Jika mereka tetap menukar barang-barang mereka yang relatif sulit dipasarkan (ditukar) itu dengan barang-barang yang lebih bisa dipasarkan, mereka akan selangkah lebih dekat dengan tujuan mereka dan dapat berharap untuk mencapainya dengan lebih pasti & ekonomis daripada jika mereka membatasi diri mereka sendiri dengan hanya melakukan pertukaran langsung.
Dengan cara inilah barang-barang yang secara alami paling punya potensi pasar (tukar) menjadi medium umum untuk pertukaran. Ini adalah barang-barang terhadap mana semua penjual dari barang-barang lain menukar barang dagangan mereka dan yang berguna untuk diperoleh lebih dulu bagi calon pembeli manapun dari komoditas lain. Dan semakin komoditas yang relatif lebih bisa dipasarkan itu menjadi medium umum untuk pertukaran, semakin tinggi perbedaan dalam hal potensi pasar komoditas ini dengan komoditas-komoditas lain, dan hal ini pada gilirannya menguatkan dan meluaskan posisi nya sebagai medium pertukaran.
Kemudian, persyaratan-persyaratan dari pasar telah secara bertahap membawa pada proses seleksi atas komoditas-komoditas tertentu sebagai medium pertukaran yang umum. Kumpulan komoditas-komoditas ini awalnya sangat banyak, dan berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Namun, seiring waktu, komoditas-komoditas ini semakin berkurang. Di mana pertukaran langsung dirasa tidak memungkinkan, tiap pihak dari suatu transaksi akan secara alami berusaha keras untuk menukar komoditas-komoditas mereka yang berlebih tidak hanya dengan komoditas yang secara umum lebih bisa dipasarkan (marketable), tetapi dengan komoditas-komoditas yang paling bisa dipasarkan. Dan diantara semuanya, dia akan secara alami memilih komoditas tertentu manapun yang paling bisa dipasarkan dari semuanya. Semakin barang yang pertama diperoleh (dalam pertukaran tidak langsung) bisa dipasarkan, semakin besar peluang seseorang untuk memperoleh tujuan utamanya tanpa banyak lagi melakukan manuver tambahan. Maka, ada tendensi yang tidak dapat dihindarkan, yaitu bahwa daftar barang-barang medium pertukaran yang lebih sulit dipasarkan akan ditolak satu demi satu sampai pada akhirnya hanya satu komoditas tunggal yang tersisa, yang secara universal telah digunakan sebagai medium pertukaran. Komoditas itu disebut: Uang.
Tingkat perkembangan dalam penggunaan medium pertukaran seperti tersebut di atas, yaitu penggunaan benda ekonomis tunggal secara eksklusif, belum sepenuhnya dicapai. Dalam masa-masa yang cukup awal, dan pada tempat-tempat tertentu lebih awal lagi, perluasan dari pertukaran tidak langsung telah membawa pada penggunaan dua logam mulia, emas dan perak, sebagai medium umum untuk pertukaran. Namun kemudian ada interupsi yang panjang terhadap proses penyempitan dari kelompok barang-barang yang digunakan untuk tujuan itu. Selama ratusan, bahkan ribuan tahun, pilihan manusia telah berganti-ganti antara emas dan perak. Penyebab utama dari fenomena yang luar biasa ini adalah kualitas alami dari kedua logam ini. Karena secara fisik dan kimia sangat mirip, logam-logam ini hampir sama bergunanya bagi pemuasan keinginan manusia. Keduanya terbukti sama baiknya untuk pembuatan berbagai jenis hiasan dan perhiasan. (Hanya saat-saat ini lah penemuan-penemuan teknologi yang terjadi telah sungguh-sungguh memperluas jangkauan penggunaan logam mulia dan juga telah mengidentifikasi perbedaannya dengan lebih cermat). Dalam komunitas yang terisolasi, penggunaan logam tertentu lainnya sebagai medium pertukaran tunggal kadang-kadang terjadi, namun kesepakatan jangka pendek seperti ini selalu segera hilang lagi setelah komunitas terisolasi tersebut berbaur dan larut berpartisipasi dalam perdagangan internasional.
Sejarah ekonomi adalah cerita tentang perluasan secara perlahan dari suatu komunitas ekonomi melampaui batas awalnya dari suatu rumahtangga yang kemudian merangkul suatu bangsa dan kemudian dunia. Namun setiap peningkatan dalam hal ukuran telah membawa pada dualitas baru medium pertukaran ketika sampai pada kondisi di mana dua komunitas yang bercampur tidak memiliki jenis uang yang sama. Tidak mungkin putusan akhir akan diumumkan sampai semua bagian-bagian utama dunia yang dihuni telah membentuk wilayah ekonomi tunggal. Karena sampai kapanpun tidak mungkin bangsa lain dengan sistem moneter yang berbeda bergabung dan memodifikasi organisasi internasional.
Tentu saja, jika dua atau lebih barang ekonomis memiliki potensi tukar yang persis sama, sehingga tidak satupun darinya yang lebih baik dari yang lain sebagai medium pertukaran, maka hal ini akan membatasi pengembangan menuju sistem moneter bersatu.
Saturday, 21 February 2009
Teori Uang dan Kredit
By Ludwig von Mises
BAGIAN SATU: SIFAT DASAR UANG
BAB I
Fungsi Uang
1. Kondisi-Kondisi Ekonomi yang Melatarbelakangi Penggunaan Uang
Di mana pertukaran bebas dari barang dan jasa tidak dikenal, di sana uang tidak dibutuhkan. Dalam suatu negara masyarakat di mana pembagian kerja adalah murni urusan domestik dan proses produksi dan konsumsi diwujudkan di dalam satu rumah tangga, uang dalam kondisi ini akan menjadi sama tidak bergunanya dengan uang bagi orang yang terisolasi. Namun bahkan dalam tatanan ekonomi berdasarkan pembagian kerja, uang akan tetap tidak berguna jika alat produksi telah memasyarakat, kendali produksi dan distribusi barang-jadi ada di tangan badan terpusat, dan tiap orang tidak diijinkan untuk menukar barang konsumsi yang diberikan kepada mereka dengan barang konsumsi yang diberikan kepada orang lain.
Fenomena uang mensyaratkan tatanan ekonomi di mana produksi didasarkan atas pembagian kerja dan di mana properti pribadi tidak terbatas pada barang-jadi (barang konsumsi), melainkan juga barang-barang yang lebih hulu (barang produksi). Dalam masyarakat macam ini tidak ada kendali produksi terpusat yang sistematis, karena hal ini tidak dapat dibayangkan bisa terjadi tanpa pembagian alat produksi yang terpusat. Proses produsi bersifat ”anarkis”. Apa yang diproduksi dan bagaimana memproduksinya diputuskan dari awal oleh pemilik alat produksi, yang memproduksi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dan dalam hal penilaian yang dipertimbangkan, bukan hanya nilai kegunaan yang mereka sendiri rasakan terhadap produk mereka, melainkan juga nilai guna yang dimiliki barang produksi tersebut yang dinilai oleh anggota masyarakat yang lain. Keseimbangan produksi dan konsumsi terjadi di pasar, di mana produsen-produsen yang berbeda bertemu untuk menukar barang dan jasa dengan tawar-menawar bersama-sama. Fungsi dari uang adalah untuk memfasilitasi bisnis pasar dengan berperan sebagai media yang umum untuk pertukaran.
To be continued....
Next: Asal Usul Uang
Tuesday, 17 February 2009
ETIKA PROTESTAN DAN SEMANGAT KAPITALISME
BAGIAN I. PENGANTAR MASALAH
BAB I
AFILIASI AGAMA DAN STRATIFIKASI SOSIAL
Tinjauan data statistik dunia kerja secara sepintas pada sembarang negara yang terdiri dari penduduk dengan beragam agama akan membawa pada pengetahuan yang nyata tentang suatu situasi, yang juga beberapa kali memunculkan diskusi pada literatur dan pers Katolik, dan juga pada kongres Katolik di Jerman, tentang fakta bahwa pemimpin suatu badan usaha atau pemilik perusahaan, serta pekerja terdidik golongan atas, dan bahkan pekerja yang sangat terlatih secara teknis maupun secara komersial dari perusahaan modern, adalah orang-orang Protestan.
Hal ini tidak hanya berlaku pada kasus di mana perbedaan agama terjadi seiring dengan perbedaan kewarganegaraan, yang tentu saja dengan perkembangan kebudayaan yang berbeda, seperti yang terjadi antara warga Jerman dan warga Polandia di Jerman Timur. Hal yang serupa juga terjadi pada berbagai bentuk afiliasi keagamaan, pada hampir setiap kondisi di mana kapitalisme, pada saat ekspansi besarnya, telah memiliki tangan yang bebas untuk mengganti distribusi sosial dari populasi sesuai kebutuhan, dan untuk menentukan struktur pekerjaannya.
Semakin bebas tangan itu, semakin jelas efek tersebut tampak. Adalah benar bahwa partisipasi yang relatif lebih besar dari orang protestan pada kepemilikan perusahaan, dalam jajaran direksi, serta pekerja level atas dalam perusahaan-perusahaan komersial dan industrial modern yang besar, sebagian mungkin dapat dijelaskan dengan lingkungan historis yang jauh ke belakang, dan karena itu afiliasi keagamaan bukan penyebab dari kondisi ekonomi, melainkan pada tingkatan tertentu muncul sebagai hasil darinya.
Partisipasi pada fungsi ekonomi tersebut biasanya melibatkan kepemilikan modal pada awalnya, dan umumnya pendidikan yang mahal. Atau seringkali keduanya. Saat ini hal tersebut banyak tergantung pada kepemilikan kekayaan warisan, atau paling tidak pada kecukupan material pada tingkat tertentu.
Sejumlah tertentu dari bagian-bagian dari kerajaan lama yang banyak berkembang secara ekonomi dan kebanyakan diuntungkan oleh sumber daya alam dan situasi, khususnya mayoritas kota-kota yang kaya, dapat dilihat pada protestanisme di abad ke 16. Hasil dari situasi tersebut menguntungkan orang – orang protestan bahkan sampai kini pada perjuangan mereka untuk meraih eksistensi ekonomi. Yang kemudian muncul adalah pertanyaan historis: Mengapa wilayah – wilayah dari perkembangan ekonomi tertinggi pada saat yang sama secara khusus baik bagi revolusi gereja? Jawaban untuk pertanyaan ini sederhana.
Proses emansipasi dari tradisionalisme ekonomi tanpa diragukan lagi tampak sebagai faktor yang dengan hebat menguatkan kecenderungan untuk meragukan kesucian tradisi agama, layaknya terjadi pada semua otoritas tradisional. Tapi perlu dicatat, hal yang seringkali dilupakan, bahwa istilah Reformasi memiliki arti bukan menghilangkan kendali gereja terhadap kehidupan keseharian, melainkan lebih kepada menggantikannya dengan bentuk kendali yang baru. Hal ini merupakan penyangkalan terhadap pengendalian yang lemah, yang pada masa itu jarang dapat diterima secara praktis, dan hardly more than formal, yang mendukung peraturan dari seluruh tindakan terkait, menerobos semua departemen publik dan privat, sangat memberatkan dan dijalankan secara earnestly. Aturan dari Gereja Katolik, ”hukum mereka yang sesat, tapi ampuni pendosa”, seperti yang terjadi di masa lalu, saat ini dimaklumi oleh orang – orang dengan karakter ekonomi modern yang cermat, dan yang merupakan keturunan dari si kaya dan orang-orang yang secara ekonomi paling kuat di dunia pada awal abad ke 15. Aturan dari Calvinisme, di sisi lain, seperti yang pernah dijalankan pada abad ke 16 di Jenewa dan di Skotlandia, pada abad 16 & 17 di sebagian besar wilayah Belanda, di abad 17 di New England, dan juga di Inggris, bagi kita akan merupakan bentuk kendali rohaniah yang paling tidak dapat dipikul oleh seorang individu. Hal inilah yang pada saat itu dirasakan oleh sejumlah besar aristokrat komersial terdahulu di Jenewa serta di Belanda & Inggris. Dan hal yang dikeluhkan oleh reformer di bidang-bidang pengembangan ekonomi tingkat tinggi tersebut bukannya karena terlalu banyaknya pengawasan Gereja terharap kehidupan, namun karena terlalu sedikit. Nah, sekarang, bagaimana hal ini bisa terjadi? Negara-negara yang sangat maju secara ekonomi tersebut, dan warga kelas menengah di dalamnya bukan hanya gagal untuk menahan tirani puritan yang tiada taranya, namun bahkan mengembangkan heroisme dalam usaha pertahanannya.
Lebih jauh lagi, hal yang penting untuk dibahas adalah, seperti yang sudah diungkapkan, bahwa lebih besarnya partisipasi penganut protestan dalam posisi pemilik dan direksi pada kehidupan ekonomi modern mungkin dapat dipahami, paling tidak sampai tingkatan tertentu, merupakan hasil dari kekayaan material yang lebih besar yang diwarisinya. Tetapi ada fenomena tertentu lainnya yang tidak dapat dijelaskan dengan cara yang sama. Kita dapat melihat dari beberapa contoh: perbedaan besar yang ditemukan di Baden, di Bavaria, di Hungaria, pada tipe dari pendidikan tinggi yang diberikan oleh orang tua Katolik kepada anak-anaknya, dan perbedaannya dengan yang orang tua Protestan berikan. Bahwa persentase orang katolik diantara para pelajar dan lulusan dari institusi pendidikan yang lebih tinggi secara umum tertinggal di belakang proporsi mereka terhadap populasi keseluruhan, mungkin saja dapat diterangkan dalam kerangka perbedaan kekayaan warisan.
to be continued...